Kain Gringsing, Antara Bisnis dan Tradisi

Desa Tenganan merupakan salah satu desa Bali Aga yang terletak di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Status desa Bali Aga merupakan daerah yang masih melestarikan pola hidup yang diwariskan nenek moyang mereka. Masyarakat Desa Tenganan masih mempertahankan undang-undang adat atau ­awig-awig, dan tidak tergerus oleh perkembangan jaman.

Struktur bangunan dan rumah di desa yang berjarak kurang lebih 45 kilometer dari ibukota Denpasar ini masih sangat tradisional. Bangunan semi permanen menghiasi sepanjang pekarangan, tapi saat masuk ke dalam rumah salah satu warga, interiornya sudah modern. Jalan di desa ini hanya menggunakan batu-batu besar dan kontur tanah yang berundag. Orang yang berkunjung ke Desa Tenganan ini seperti dibawa ke potret Bali masa lampau.

Hasil karya buah tangan bisa ditemui di desa ini, salah satunya adalah kain gringsing. Kain gringsing merupakan produk asli masyarakat Tenganan Penggringsingan. Nama Gringsing sendiri diambil dari kata ‘gring’ yang berarti sakit, dan kata ‘sing’, yang berarti tidak. Kain gringsing dahulu dipercaya sebagai penolak bala atau sakit. Sampai saat ini, pembuatan kain gringsing masih tetap dilakukan.

Salah satunya adalah Ibu Nyoman Sari yang masih menekuni kegiatan tenun menenun. Ditemui di rumahnya, perempuan paruh baya ini tetap menenun untuk mengisi kekosongan waktu. “Ya, kalau tidak menenun, saya masak, daripada saya bengong,” ujarnya sambil tertawa.

Bu Nyoman Sari (2)
Ibu Nyoman Sari sedang menenun kain jenis gotya. (dok pribadi)

Kegiatan menenun sudah digeluti sejak masih kecil. Tangan Ibu Nyoman sudah lihai betul memintal benang dan mendorong kayu di alat tenun berukuran sedang. “Menenun sudah saya lakukan dari kecil. Hampir semua perempuan di desa diajarkan menenun secara turun temurun,” ungkap beliau.

Adapun kain yang dihasilkan Ibu Nyoman saat ini lebih banyak adalah kain jenis gotya. Pembuatan kain ini tidak terlalu membutuhkan waktu yang lama. “Untuk kain gotya, selesai paling dua sampai tiga hari.” ujarnya.

Image_d2c437c
Kain jenis gotya yang sedang ditenun. (dok. pribadi)

Untuk harga satu kain gotya, berkisar antara 50 ribu sampai 75 ribu rupiah. Karena bahannya masih mudah didapatkan. Kain jenis ini lebih banyak diproduksi dibanding kain gringsing.

Untuk kain gringsing sendiri, Ibu Nyoman terkendala masalah modal. “Kain gringsing itu bahannya susah dicari. Itu harus pesan dari pulau Nusa Penida. Lagipula prosesnya membutuhkan waktu yang lama.” tukas ibu yang kini tinggal sendiri saja di rumahnya.

“Bahan kain gringsing yakni berupa kapuk hanya bisa didapat di Nusa Penida. Proses pemintalan dan pewarnaan benang dilakukan secara sendiri. Misalnya saat perendaman benang harus didiamkan di satu tempat yang tidak boleh dilihat orang atau turis asing. Perempuan yang sedang datang bulan pun tidak diperbolehkan untuk melihat ke tempat perendaman benang. Untuk harganya itu mulai dari 500 ribu sampai 1,5 juta rupiah.” Jelas ibu Nyoman dengan nada pelan.

Image_0f22b7c
Kain jenis gotya yang diproduksi Ibu Nyoman Sari (dok. pribadi)

“Paling untuk kain gringsing saya buat waktu dekat-dekat hari raya. Mereka yang punya modal besar saja baru bisa produksi banyak kain gringsing. Kalaupun ada tamu luar, palingan hanya lihat-lihat saja. Tidak seperti dulu, ada yang beli” lanjutnya sembari tersenyum.

Produksi kain gringsing sendiri tidak terlalu banyak peminat. Tapi Ibu Nyoman tidak terlalu mementingkan keuntungan bisnis dari penjualan kain. “Kalau ada yang beli, ya, syukur. Sudah jadi kebiasan sehari-hari juga menenun.” imbuhnya tersenyum simpul. (ws.)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s