Bincang-Bincang: Suka Duka Jadi Anak Kembar

Terlahir menjadi anak kembar adalah anugerah tersendiri. Siapa yang tidak bangga kita punya duplikat orang yang benar-benar mirip, tidak hanya dari segi wajah, tapi juga sifat. Di suatu kesempatan, saya bertemu dengan dua orang perempuan yang memiliki wajah sama alias kembar. Tidak ada satu pun yang berbeda dari mereka mungkin karena saya baru melihatnya. Berikut sedikit bincang-bincang saya, bagaimana suka duka menjadi anak kembar.

Image_81c6319
Si Kembar Ria dan Ari (dok/dn)

Anak kembar yang saya temui ini bernama Ria dan Ari, mereka mengaku senang menjadi anak kembar, walau pertengkaran kadang tak bisa dihindari.

“Menjadi kembar itu seru, menyenangkan walaupun sering berantem bahkan perang dunia ketiga”, ujar sepasang anak kembar itu.

“Jadi anak kembar itu lucu, soalnya kita punya muka yang sama ternyata dari lahir, ada diajak berantem, tukeran baju, enak kalau mau bolos beda gak ketauan, kan muka sama.” Ungkap mereka.

Saat ditanya, susah tidak sih jadi anak kembar? “Susah, yang pertama kalau baju hilang, pasti yang pakai siapa, gampang banget malah yang susah ibu kali, yang ngelahirin.”

“Serunya itu ada temen, nyambung tahu kalau ketawa pasti sama-sama ketawa, satu pemikiran, baju ukuran sama, kita gak punya sama kalau gak punya uang yang punya uang bisa beli, kesukaannya sama biasanya,

Pernah ada kejadian lucu tidak dari kalian berdua? “Pernah waktu kecil kalau sakit perut berdua di kamar mandi, main bareng,”

Kalau kejadian yang bikin kalian kesel? “Pernah, waktu itu Ari di kampus dan disamperin sama temennya Ria tanpa bertanya langsung mengajak berbicara” tukasnya sembari tertawa.

Terus, kalau tentang pacar? “Pernah pas PDKT ketemu di Gramedia, kita berdua ke sana terus cowok yang diajak ketemu salah orang, maunya ketemu sama Ria tapi malah yang diajak ngomong Ari.”

Mereka berdua juga saling merasa kehilangan dan sepi kalau dari salah satu tidak ada.

“Punya SIM cuma satu berdua, jadi gak perlu susah-susah buat dua jugaan  mukanya sama tap pernah ditilang juga sih”

“Ada cerita, waktu kecil kita dipisah sekitar umur 3 tahun, Ari di singaraja dan Ria di Denpasar. Waktu itu Ari diajak belanja sama nenek, Ari minta beli jajan sama nenek, habis tu Ari beli dua padahal kan gak ada Ria, terus pas ditanya kok beli dua? Ia buat Ria , jadi kita dari kecil ikatan bathinnya lebih kuat. Padahal jauh tapi rasanya deket, karena itu kita gak dipisahin lagi. Kejadian lucu pernah pas SMA ditabrak sama orang yang kembar juga. Juga pernah ikut perkumpulan anak kembar se-Bali dan bertemu dengan Kak Seto.” Ungkap mereka berdua sembari tertawa. (dn)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s